Kemacetan lalu lintas sering menjadi masalah di kota-kota besar, terutama saat jam sibuk atau musim liburan seperti saat mudik Lebaran. Untuk mengatasi kepadatan di jalan, salah satu strategi yang umum diterapkan adalah sistem “contraflow”. Sistem ini memungkinkan kendaraan menggunakan sebagian jalur dari arah berlawanan untuk memperlancar arus lalu lintas. Biasanya, contraflow diterapkan di jalan tol atau jalur utama yang mengalami lonjakan volume kendaraan. Dengan cara ini, kendaraan dapat bergerak lebih cepat, mengurangi kemacetan, serta meningkatkan efisiensi perjalanan. Namun, pengawasan ketat tetap diperlukan agar sistem ini aman bagi pengendara.
Bagaimana sebenarnya cara kerja contraflow dan apa manfaat serta risiko yang terkait dengan penerapannya? Sistem contraflow merupakan metode rekayasa lalu lintas yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jalan dengan menggunakan jalur dari arah berlawanan. Biasanya, contraflow digunakan saat arus lalu lintas sedang padat, terutama di ruas Tol Trans Jawa saat musim mudik. Penggunaan sistem ini dapat mengurangi kemacetan, mempercepat perjalanan, dan meningkatkan keselamatan pengendara. Meski memberikan manfaat, contraflow juga memiliki risiko seperti risiko kecelakaan, kebingungan pengguna jalan, dan ketidaktertiban pengemudi.
Untuk mengatasi lonjakan kendaraan saat mudik Lebaran 2025, Korlantas Polri telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas termasuk menerapkan contraflow di ruas Tol Jakarta-Cikampek. Penerapan contraflow akan dilakukan dalam dua periode yaitu Kamis, 27 Maret 2025 hingga Sabtu, 29 Maret 2025 serta Senin, 31 Maret 2025 hingga Selasa, 1 April 2025. Tujuannya adalah untuk mengurai kepadatan kendaraan dan memastikan arus mudik tetap lancar dan aman. Dengan demikian, pengguna jalan dapat menikmati perjalanan yang lebih nyaman dan aman.


