Menurut Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, kendaraan listrik merupakan pilihan yang lebih efisien daripada biodiesel dan bioetanol untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi. Kendaraan listrik dikatakan lebih hemat dalam biaya operasi dan tidak memberatkan subsidi negara. Adhiguna juga menjelaskan bahwa elektrifikasi merupakan langkah penting ke depan, seperti yang dilakukan oleh China yang mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mereka. Saat ini, Indonesia telah menggantikan setidaknya 3 ribu barel minyak per hari dengan kendaraan listrik.
Meskipun biodiesel telah menggantikan 270 ribu barel minyak per hari, Adhiguna tetap mendorong pengembangan industri kendaraan listrik. Biodiesel bergantung pada subsidi yang tinggi karena harganya lebih mahal daripada diesel biasa. Sementara itu, bioetanol dinilai Adhiguna bisa 20 persen lebih mahal daripada bensin dan belum ada industri besar yang dapat mensubsidinya seperti industri kelapa sawit. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan terkait anggaran yang akan digunakan pemerintah, terutama dalam situasi APBN yang tertekan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan akan memberikan insentif untuk program konversi motor bensin menjadi motor listrik guna mengurangi polusi dan melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan. Program ini diharapkan dapat mendapat dukungan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi. Sebuah langkah penting dalam menjaga ketahanan energi negara.


