Pemerintah Pastikan Ketersediaan 11 Pangan Pokok Strategis Aman Meskipun Ketegangan di Selat Hormuz
Pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, tidak mengganggu ketersediaan 11 pangan pokok strategis nasional. Dengan kondisi stok yang tetap aman, Indonesia terus memantau perkembangan yang terjadi.
Stabilitas Pangan dan Proyeksi Ketersediaan
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menegaskan bahwa berdasarkan proyeksi neraca pangan hingga Juni 2026, 11 pangan pokok strategis diproyeksikan tetap mengalami surplus. Meskipun beberapa komoditas masih memerlukan impor tambahan, pemerintah memastikan bahwa sumber impor berasal dari negara-negara yang tidak terdampak konflik di Selat Hormuz.
Sarwo Edhy juga menjelaskan bahwa distribusi pangan nasional tidak melalui Selat Hormuz sehingga pengaruhnya terhadap ketersediaan pangan sangat kecil. Hal ini menjadikan ketersediaan pangan di Indonesia cukup stabil meskipun adanya ketegangan di kawasan tersebut.
Stabilitas Harga Pangan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan bahwa stabilitas pangan tercermin dari Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang menunjukkan tren membaik. Jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH terus menurun, menunjukkan adanya kontrol harga yang efektif.
Kepala Bapanas dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menambahkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan dengan porsi impor yang relatif kecil. Produksi nasional yang mencapai 73 juta ton per tahun mengindikasikan bahwa Indonesia masih dalam kategori swasembada pangan menurut standar FAO.
Dengan demikian, meskipun terjadi ketegangan di Selat Hormuz, pemerintah Indonesia terus memastikan ketersediaan pangan pokok strategis dan menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri.


