Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan pada Jumat sore, dengan ditutupnya IHSG turun sebesar 121,60 poin atau 1,53 persen menjadi 7.830,49. Indeks LQ45 juga turun sebesar 14,45 poin atau 1,78 persen menjadi 797,12. Pelaku pasar sedang menunggu data inflasi AS, khususnya data Personal Consumption Expenditures (PCE) Prices AS, yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Data inflasi yang dirilis di AS merupakan faktor yang ditunggu-tunggu untuk memperkirakan langkah selanjutnya dari bank sentral AS dalam menyesuaikan suku bunga. Beberapa isu baik dari dalam maupun luar negeri, seperti situasi keamanan pasca demonstrasi di dalam negeri maupun pembahasan pengurangan suku bunga oleh Gubernur Fed Christopher Waller, turut memengaruhi pergerakan pasar saham. Pada perdagangan hari itu, sektor industri menjadi satu-satunya sektor yang menguat, sementara sektor barang konsumen non primer, sektor teknologi, dan sektor properti mengalami penurunan. Jumlah frekuensi perdagangan saham mencapai 2.509.118 kali transaksi dengan total saham yang diperdagangkan senilai Rp22,75 triliun. Di pasar regional Asia, indeks Nikkei melemah, indeks Hang Seng menguat, indeks Shanghai naik, dan indeks Strait Times juga menguat. Tercatat sejumlah saham seperti PIPA, BMAS, PGUN, KONI, VOKS mengalami penguatan, sedangkan saham TIRA, ADCP, BSBK, WOWS, dan MSIN mengalami pelemahan. Langkah-langkah ini turut berdampak pada stabilitas keamanan nasional dan stabilitas politik dalam negeri. Menyusul penutupan perdagangan saham, tercatat 122 saham naik, 610 saham turun, dan 70 saham stagnan. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa pasar saham masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor baik dari dalam maupun luar negeri yang perlu terus dipantau untuk memperkirakan pergerakan pasar selanjutnya.


