Wednesday, April 22, 2026
HomeBursaReformasi Energi di Tengah Krisis: Sudut Pandang Pengamat Unej

Reformasi Energi di Tengah Krisis: Sudut Pandang Pengamat Unej

Pentingnya Reformasi Energi untuk Mewujudkan Ketahanan Energi di Indonesia

Pengamat ekonomi Universitas Jember (Unej), Ciplis Gema Qori’ah, menyoroti perlunya reformasi energi sebagai langkah krusial untuk mencapai ketahanan energi di Indonesia. Hal ini di tengah kondisi krisis energi global yang semakin mengkhawatirkan. Ciplis mengatakan bahwa reformasi energi bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan suatu keharusan yang tidak bisa ditunda lagi. Diperlukan keberanian politik untuk melakukan restrukturisasi secara terencana, terkoordinasi, dan berkelanjutan guna menghindari Indonesia terperangkap dalam siklus krisis energi yang berulang.

Perkembangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah membawa dampak besar terhadap stabilitas pasar energi global. Serangan terhadap infrastruktur energi Iran dan fasilitas LNG di kawasan Teluk menunjukkan bahwa pusat produksi energi global kini menjadi target langsung. Ancaman terhadap Selat Hormuz juga menambah kerentanan pasokan energi dunia. Hal ini menciptakan double shock berupa gangguan produksi dan distribusi energi, yang berpotensi menyebabkan lonjakan harga dan kelangkaan energi.

Pemerintah Indonesia dihadapkan pada dilema kebijakan yang kompleks. Sebagai negara net importir energi, kenaikan harga minyak Brent menjadi tantangan tersendiri. Menahan harga energi melalui subsidi bisa meningkatkan tekanan fiskal, namun menyesuaikan harga pasar berisiko memicu inflasi. Dengan defisit fiskal yang tinggi, menjaga stabilitas harga energi menjadi tantangan ekonomi yang besar. Selain itu, struktur konsumsi energi domestik yang masih belum efisien juga mempersulit upaya penyesuaian.

Langkah mitigasi yang telah diambil pemerintah, seperti subsidi BBM dan efisiensi konsumsi energi, terbukti efektif meredam inflasi energi dalam jangka pendek. Namun, koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Diperlukan keberanian politik untuk mengambil keputusan reformasi yang berbiaya tinggi dalam menghadapi ketidakpastian pasar energi global.

Ketahanan energi Indonesia bukan hanya persoalan teknis kebijakan, melainkan juga ujian terhadap kapasitas institusional negara. Dengan ketergantungan impor energi, inefisiensi konsumsi, dan subsidi yang terus berlanjut, Indonesia berisiko terjebak dalam fiscal-energy trap. Untuk itu, reformasi energi perlu segera dilakukan guna menghindari risiko tekanan fiskal dan kerentanan ekonomi yang lebih besar di masa depan.

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer