Struktur Ekspor di Provinsi Papua Masih Bertumpu pada Komoditas Kayu
Jayapura (ANTARA) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua melaporkan bahwa struktur ekspor di Provinsi Papua pada Maret 2026 masih terpusat pada komoditas nonmigas, khususnya golongan kayu dan barang dari kayu (HS44), dengan nilai sebesar 3.151,11 ribu dolar AS atau sekitar Rp54,84 juta.
Komoditas Kayu Tetap Menjadi Andalan Ekspor Papua
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Papua, Emi Puspitarini, menegaskan bahwa komoditas kayu tetap menjadi penyumbang terbesar ekspor Papua. Hal ini mencerminkan daya saing produk kehutanan Papua di pasar global. Ekspor nonmigas berkontribusi hampir 100 persen terhadap total ekspor Papua, sementara sektor migas hanya memiliki peran yang sangat kecil dalam perdagangan luar negeri daerah.
Penurunan Nilai Ekspor dan Tujuan Utama Ekspor
Total nilai ekspor Papua pada Maret 2026 mencapai 3.550,09 ribu dolar AS, mengalami penurunan signifikan sebesar 47,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dari sisi tujuan ekspor, Australia menjadi pasar utama bagi ekspor Papua dengan nilai mencapai 2.457,90 ribu dolar AS atau sekitar 69,23 persen dari total ekspor. Selain itu, Selandia Baru dan Papua Nugini juga menjadi tujuan ekspor utama dari Papua.
Infrastruktur Logistik dan Pelabuhan
Emi juga mencatat bahwa sebagian besar aktivitas pemuatan ekspor di Papua dilakukan melalui Pelabuhan Jayapura, khususnya untuk pengiriman ke negara tetangga. Namun, sebagian besar ekspor Papua sebenarnya dimuat melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, yang menunjukkan tingginya ketergantungan Papua pada infrastruktur logistik di luar daerah tersebut.
Secara kumulatif, total nilai ekspor Papua selama Januari hingga Maret 2026 mencapai 14.629,63 ribu dolar AS, mengalami penurunan sebesar 7,78 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.


