Friday, May 15, 2026
HomeBisnisCOO Krakatau Steel: Energi Bersih Terjangkau Untuk Transisi Baja Hijau

COO Krakatau Steel: Energi Bersih Terjangkau Untuk Transisi Baja Hijau

Kunci Transisi Menuju Industri Baja Hijau

COO PT Krakatau Steel Tbk, Sidik Darusulistyo, menyoroti pentingnya ketersediaan energi bersih yang aman dan terjangkau dalam mendukung transisi industri baja menuju produksi rendah emisi atau baja hijau. Menurutnya, hal ini menjadi faktor utama yang harus dipertimbangkan dengan cermat.

Margin Tipis, Risiko Minim

Sidik menjelaskan bahwa industri baja memiliki margin keuntungan tipis sekitar 5-7 persen, yang membuat perusahaan harus tetap berhati-hati dalam memilih teknologi dekarbonisasi. Dalam konteks ini, keamanan, keterjangkauan, serta keberlanjutan energi menjadi prioritas utama sebelum beralih ke teknologi hijau yang lebih canggih.

“Karena margin-nya tipis, kita tidak akan mengambil risiko yang terlalu besar. Kita harus menggunakan teknologi yang memang sudah mature dan proven,” ujar Sidik.

Tantangan Biaya Energi dan Bahan Baku

Sidik juga menyoroti bahwa harga gas alam di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan sejumlah negara pesaing, sehingga berdampak pada struktur biaya industri baja. Hal ini membuat perusahaan harus tetap kompetitif di pasar global dengan memperhitungkan faktor biaya energi dan bahan baku yang signifikan.

“Bahan baku dan energi ini driving steel cost. Kita harus stay competitive,” tambahnya.

Untuk menghadapi kebijakan perdagangan karbon global dan persiapan menuju industri baja hijau, Krakatau Steel telah merancang peta jalan dekarbonisasi hingga 2050. Langkah-langkah ini termasuk efisiensi energi, digitalisasi industri, penggunaan energi terbarukan, hingga pengembangan teknologi rendah karbon seperti CCUS dan hidrogen.

Dalam konteks ini, Dosen Besar ITB Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Prof. Zulfiadi Zulhan, menambahkan bahwa pengembangan baja hijau memerlukan dukungan energi bersih dalam jumlah besar untuk mendukung produksi hidrogen hijau yang menjadi kunci utama keberhasilan transisi menuju industri baja hijau.

“Kalau itu (masalah pasokan energi) belum selesai, jangan bicara green steel dulu. Energi itu yang paling utama,” tandas Zulfiadi.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer