Rupiah Kembali Tertekan, Nilai Tukar Tembus Rp17.926 per Dolar AS
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini. Pelemahan ini diakibatkan oleh faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia yang memperkuat posisi dolar AS.
Pelemahan Rupiah Dipicu oleh Berbagai Faktor
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti adanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Hal ini membuat dolar AS semakin kuat, sehingga nilai tukar rupiah terdampak langsung. Selain itu, kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran juga menambah ketidakpastian di pasar global.
Ketegangan antara Iran dan Israel juga turut memperburuk sentimen pasar, terutama terkait dengan pasokan energi global. Harga minyak yang tetap tinggi akibat kondisi ini dapat mempertahankan tekanan inflasi di AS, serta membuat bank sentral AS (The Fed) cenderung untuk mempertahankan suku bunga tinggi bahkan bisa menaikkannya di tahun ini.
Faktor Domestik Juga Berperan
Dari sisi domestik, tingginya harga minyak juga meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan utang yang jatuh tempo juga ikut menekan nilai tukar rupiah. Penyaluran dana ke instrumen berbasis valas oleh sebagian masyarakat juga turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.
Untuk meredam tekanan ini, pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan ekonomi. Hal ini termasuk memastikan ketersediaan pasokan barang, memperkuat program bantuan sosial yang tepat sasaran, serta mendorong sektor riil untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, percepatan transformasi digital dan penyederhanaan regulasi investasi juga menjadi kunci untuk menarik lebih banyak investor asing masuk ke Indonesia. Perbaikan iklim investasi dapat memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.


