Pemerintah Perlu Memperkuat Neraca Pangan Wilayah
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan bahwa pemerintah perlu memperkuat neraca pangan wilayah untuk menyinkronkan produksi dan kebutuhan antardaerah guna mencegah tekanan harga pangan pada September 2026. Menurut Esther, kenaikan harga pangan saat ini disebabkan oleh peningkatan permintaan yang tidak diimbangi pasokan, peralihan musim panen, serta dorongan program makan bergizi.
Penyebab Kenaikan Harga Pangan
Esther menilai bahwa tekanan harga saat ini berasal dari berbagai faktor, mulai dari peningkatan permintaan daging ayam ras hingga berkurangnya pasokan sejumlah komoditas dari sentra produksi. Bank Indonesia mencatat kelompok pangan bergejolak mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026 setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya. Inflasi terutama disumbang oleh daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Faktor Penyumbang Inflasi
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Agustus, diikuti oleh cabai rawit, ikan segar, dan beras. Esther mengaitkan peningkatan permintaan daging ayam ras dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali dijalankan. Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit dan ikan segar dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Perihal beras, Esther menilai berakhirnya musim panen raya dan masuknya masa tanam kedua membuat pasokan di pasar berkurang sehingga perlu diantisipasi dalam pengelolaan pasokan pangan. Langkah-langkah strategis di tingkat lokal maupun nasional perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas harga pangan di masa mendatang.


