Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, dengan rentang konsolidasi 6.000–6.200. Pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah bursa.
Pada awal perdagangan, IHSG turun 8,25 poin atau 0,14 persen ke level 6.062,89. Pelemahan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang turun 2,09 poin atau 0,35 persen menjadi 599,09.
“Diperkirakan IHSG masih konsolidasi pada kisaran 6.000-6.200 pada perdagangan Kamis,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.
Investor mencermati data ekonomi Amerika Serikat
Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama setelah imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kenaikan itu turut mendorong biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Agustus 2026 menunjukkan kenaikan 0,3 persen secara bulanan atau month to month (mtm), serta 3,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka bulanan itu lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 0,1 persen, sedangkan angka tahunan tetap sama di level 3,4 persen. Namun, hasil tersebut masih di bawah perkiraan pasar sebesar 0,4 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan.
Indeks harga PCE inti juga naik 0,2 persen secara bulanan dan 3 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Capaian itu berada di bawah konsensus masing-masing 0,3 persen dan 3,3 persen.
Estimasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS kuartal II-2026 direvisi menjadi 2,2 persen dari perkiraan sebelumnya 1,5 persen. Sementara itu, laporan bulanan ADP mencatat penambahan 90.000 lapangan kerja sektor swasta pada September 2026.
“Selanjutnya investor menantikan data indeks ISM Manufacturing AS yang diperkirakan naik pada level 55 pada bulan September 2026 dari level 54,6,” kata Ratna.
Data domestik menjadi perhatian berikutnya
Di dalam negeri, pasar menunggu rilis inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026. Konsensus memperkirakan inflasi bulanan meningkat menjadi 0,31 persen dari 0,21 persen pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan mencapai 3,3 persen, naik dari 3,19 persen. Inflasi inti juga diperkirakan meningkat menjadi 3 persen dari 2,92 persen.
Surplus neraca perdagangan Indonesia diperkirakan bertambah menjadi 0,6 miliar dolar AS pada Agustus 2026, dibandingkan 0,13 miliar dolar AS pada Juli. Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat dari 6,05 persen menjadi 4,2 persen secara tahunan. Sebaliknya, impor diproyeksikan tumbuh lebih cepat, yakni 31,7 persen dari 27 persen.
Indeks S&P Global Manufacturing PMI juga diperkirakan kembali masuk zona ekspansi, dari 49,8 menjadi 50,3 pada September 2026.
Dalam kebijakan fiskal, pemerintah dan DPR menyepakati anggaran subsidi energi dalam APBN 2027 sebesar Rp261,5 triliun. Nilai itu turun Rp11,4 triliun dari rencana awal dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2027 sebesar Rp272,94 triliun. Menurut kajian tersebut, kenaikan harga minyak yang berlanjut hingga tahun depan berpotensi membuat inflasi bertahan pada level tinggi.
Sentimen eksternal turut menjadi perhatian setelah bursa Eropa ditutup melemah pada Rabu (30/09). Euro Stoxx 50 turun 0,83 persen, FTSE 100 Inggris 0,29 persen, DAX Jerman 0,79 persen, dan CAC 40 Prancis 0,89 persen.
Di Wall Street, S&P 500 turun 0,25 persen ke 7.651,54 dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,86 persen ke 50.906,05. Nasdaq Composite bergerak berlawanan dengan menguat 0,24 persen ke 26.861,06. Pada perdagangan pagi di Asia, Nikkei naik 2,51 persen, Shanghai 0,31 persen, dan Hang Seng 0,37 persen, sementara Kospi turun 0,48 persen dan Straits Times melemah 0,09 persen.


